Tuesday, May 12, 2009

Gesah Cek Mat

Dengan nuansa tahun 80-an di kota Palembang, Bukan “lagu” baru kalau Cek Mat saat pergi kepasar akan selalu terlihat seperti memborong seluruh baraang yang ada dipasar, seperti yang terjadi hari ini sudah sejak pagi ia keluar dengan berbekal handuk kecil dan kantong kresek bermerek “Assoy” yang terselip di kantong jeans cekmat yang lumayan lusuh, tetapi sebelum kepasar Cek Mat singgah dulu ke warung kopi Cek da, dimana warung kopi tersebut yang terletak tidak jauh dari pasar sekanak

“Cek, teh manis separo…….?’ Kata Cekmat sambil makan bakwan goreng yang masih panas, tak lama kemudian datanglah teh manis separo yang di letakan oleh Cek da.
Sambil mengaduk teh manis tersebut Cek Mat bertanya “Cek, si Ujuk sudah datang belum ?”,
“Belum Cek..”, jawab Cek da singkat.

Sambil menghirup tehnya…..” Ai Cek, alangkah manisnyo teh ini….cuba tambah dengan air lagi ……….?”, kata Cek mat sambil menyodorkan gelas tehnya, dan Cek da dengan sigap menambahkan lagi air di gelas cek mat,……dan kembali cekmat mengaduk air teh manis nya yang sekarang penuh menjadi 1 gelas..dan meminumnya kembali…”Ai, ngapo jadi teh tawar ini…….” Serunya lagi.
“Yang bener bae cek…?’ sahut Cek da
“Iyo ….kalu kurang gulo….cubo tambai lagi, cek…” kata cek mat
dan gelas teh pun sudah berpindah tangan dan di beri 1 sendok gula oleh Cek da……
“Cek cubo tambah sesendok lagi………..” kata cek mat..
“Rugi cek kalau cak ini……….”bersungut cekda sambil menambahkan sesendok gula ke gelas teh cek mat.
“ Ini baru mantap…..cek…..pas nian rasonyo..” sambil tersenyum cek mat setelah meminum setegukan teh tersebut.
Padahal ini hanya akal-akalan dari cek mat saja di mana karena uang nya hanya cukup untuk membayar 2 bakwan dan separoh teh tetapi karena akal-akalannya ia bisa minum 1 cangkir penuh teh manis………dasar..cek mat “ ujung lapan lancip”.

Bersambung ke CEK MAT KE PASAR

PILIHAN HIDUP

Pilihan memang sesuatu yang berat terutama bila keduanya seimbang antara pilhan tersebut, apalagi saat kedua pilihan tersebut setelah di timbang-timbang antara keduanya antara baik dan buruknya juga seimbang, tetapi tenyata kita masih diharuskan untuk memilih karena tidak ada alasan untuk tidak memilih, keingian didalam relung hati yang paling dalam ingin memilih kedua-duanya, tetapi hal tersebut tidak mungkin…..

Memilih itulah salah satu “bumbu penyedap” yang selalu melintas di jalan kehidupan kita di mana banyak pilihan sepanjang jalan seperti ujian nasional yang akan menentukan kita berhasil atau tidak, memang bagi yang di hadapakan kepada pilihan tetapi karena mereka memiliki segala sumber daya untuk mengambil pilihan tersebut bukan menjadi masalah, seperi keinginan untuk membeli sepatu yang berwana hitam atau putih bai yang memiliki sumberdaya yang banyak dalam hal ini uang mungkin mereka tidak akan melakukan pilihat tetapi bisa memeilih kedua-duanya, tetapi bagi yang memilik uang yang terbatas yang hanya bisa membeli 1 sepatu pasti harus berpikir sejenak dan harus memilih, pilihan yang terbaik timbul dari hasil pertimbangan dari hati yang jernih dan kepala yang dingin, walaupun kita tidak bisa menebak pilihan yang kita pilih tersebut bisa membuat kita bahagia atau tidak yang penting kita sudah membuat pilihan atas kehidupan yang kita jalani, karena pilihan di dalam kehidupan ini tidak segampang saat kita akan membeli baju atau sepatu atau barang-barang kebutuhan lainnya, karena tidak sedikit yang menyesali pilihan yang telah di buatnya mungkin karena pilihan tersebut tidak di pikirkan denan matang terlebih dahulu, di mana dalam menentukan pilihan ini penyerahan diri kepada Allah merupakan hal yang penting karena beliau yang menggenggam jalan kehidupan ini.

Menurut saya pribadi bahwa menentukan pilihan ini bisa membantu kita untuk menjadi dewasa karena keputusan yang kita buat akan kembali ke kita juga baik atau buruknya, sehingga pemikiran yang matang dan juga kedewasaaan perlu di kedepankan disini bukan hanya sesaat. Tetapi yang pasti pilihan yang terbaik menurut kita belum tentu menurut Allah dan begitu juga yang menurut kita kurang baik munkin di mata Allah adalah sebaliknya, yang pasti berkihtiar dan berusaha bisa merubah nasib ini,
semoga langkah ini menjadi ringan dengan pilihan yang baru saya buat………… ..Amin.

Dodi NP – “Memilih”

Saturday, April 11, 2009

Pemilu Legislatif 2009 Di Palembang

Tanggal 9 April 2009 merupakan "Pesta Demokrasi" yang ke 10 kali negeri ini, di mana hampir di setiap pelosok negeri ini merayakan pesta ini dengan datang ke TPS dengan memberikan hak suara, walaupun ada juga yang tidak menggunakan hak pilihan tersebut alias "Golput".

Begitu juga di Sumatera Selatan pada umumnya dan khususnya di Palembang kemeriahaan pesta demokrasi tersebut juga terasa di lihat dengan lengangnya jalan-jalan utama dan masyarakat banyak memenuhi TPS yang ada di kota ini. Di mana peliputan beber Beberapa hal yang perlu di soroti pada kampanye kali ini yaitu :

Daftar Pemilih Tetap (DPT)

Problem yang paling besar di dalam pelaksanaan pemilu legislatif kali ini adalah permasalahan DPT ini di mana kesimpang siuran dari DPT ini menjadi penyebab banyaknya warga dan masyarakat yang "Diharuskan Golput" karena tidak terdaftar sebagai pemilih, padahal mereka tercantum di sebagai warga tersebut, prediksi sebagian ahli dari 30-40% merupakan golput merupakan angka yang fantastis di mana angka yang hampir menyamai pemilih di mana pada tahun 2004 angka tersebut hanya di kisaran 15-16%.

Selain itu kerancuahan dari DPT itu sendiri seperti terjadinyo double nama bahkan sampai triple, warga yang sudah meninggal masih di cantumkan bahkan namanya double, nomor induk yang salah dan beragam ketidak beresan lainnya yang di anggap oleh sebagian besar msyarakat ini sebagai "ketidak becusan"dari KPU dalam melaksanakan pemilu tahun 2009, di mana dana yang sudah di keluarkan untuk pemutahiran data ini mencapai angka milyaran atau bahkan triliunan tetapi kesan yang tidak beres seperti ini menimbulkan tanda tanya besar, kemana saja dana pemutahiran tersebut dan apakah kerja dari orang-orang yang di beri "amanah" untuk pemutahiran data tersebut.

Seperti contoh yang terjadi di TPS 30 Talang kelapa di mana dari DPT yang berjumlah 440 hanya 140 orang yang menggunakan hak pilinya di mana +/- 25% merupakan "DPT Error" dan sisanya merupakan golput dan ada beberapa % lagi yang terpaksa golput di karenakan tidak bisa memilih karena namanya tidak tercantum di dalam DPT.

Dari analisa sementara sepertinya permasalahan DPT ini mencapai 40% dari permasalahan pemilu yang lainnya pada Pilcaleg 2009 ini.

Politik Uang (Money Politic)

Ini juga masih masih banyak di temukan saat pemilu 2009 ini, karena di rasa sebagai senjata yang paling ampuh maka istilah seperti "Serangan Fajar" ataupun lainnya, banyak pengakuan dari pemilih yang mendapatkan uang dari anggota caleg baik yang akan duduk di DPRD, DPR RI ataupun DPD sendiri, pada saat pemantauan di beberapa TPS terutama kawasan pasar kuto dan 5 ilir hal ini masih banyak terjadi, bagi masyarakat mereka senang-senang saja karena mendapat uang "Gratisan" , walau mereka tidak sadar menjadi bahan "pembodohan" oleh para kandidat wakil rakyat ini, malahan ada dari timses caleg tersebut melakukan dor to dor untuk politik uang ini.

Kerusakan Logistik Pemilu

Banyak juga kerusakan logistik pemilu yang di temukan di lapangan seperti di kawasan Mega Mendung Sentosa, Plaju di salah satu TPS di temukan surat suara didalam kotak basah walaupun kotak tersebut tidak pernah di buka, walau hal ini tidak terlalu menggangu tetapi KPPS setempat cukup kerepotan karena baru di ketahui saat hari H, atau seperti yang terjadi di TPS ogan baru Kertapati di mana mereka harus melakukan pemilu ulang pada hari Jumat, 10/04/09 karena salah satu dari surat suara mengalami salah cetak, sehingga bisa di tebak hanya berapa % saja yang melakukan pemilihan ulang tersebut.

Perlengkapan Logistik Pemilu

Jika mencermati pemakaian dari logistik pemilu seperti bilik suara yang banyak "mubazir" karena tidak sesuai dengan ukuran dari surat suara merupakan kendala karena kita tahu berapa harga dari bilik suara tersebut dan sudah di buat ternyata tidak bisa di gunakan, begitu juga dengan penggunaan pena merah pada alat pencontreng karena menyusahkan dan terlalu kecil yang lebih parah saat perhitungan suara apalagi kalau di tempat tersebut samapai 400 pemilih bisa-bisa jumlah surat suara yang di hitung sampai 1600, kenap KPU tidak menggunakan spidol besar yang biasanya di gunakan untuk guru mengajar biar lebih mudah.

Hal di atas hanya sebagain kecil dari hasil pemantauan saya di mana mungkin masih banyak lagi ketidak beres-an di dalam pemuilu legislati ataupun kecurangan-kecurangan lainnya yang terjadi, KPU sepertinya tidak terlalu siap untuk pemilu legislatif ini tetapi di paksakan untuk siap, sehingga kekurangan yang terjadi sangat terlihat.

Hendaknya pada pemilu yang akan datang PILPRES pada bulan Juli yang akan datang kesiapan KPU akan di uji kembali apakah mekanisme kerja yang ada dapat berbenah atau akan lebih parahm, karena kalu wakil rakyat saja sudah salah pilih atau salah atur atau tidak bisa memeilih siapa yang akan menyuarakan hati rakyat.

KPU perlu banyak berbenah saran perbaikan dari kita dan juga perbaikan dari internal KPU sendiri juga peting untuk perubahan bangsa ini.

Dodi NP _ "Hasil Pemantauan"


Monday, April 6, 2009

Kenangan Indah Bersama Ayah

Ingat dulu saat naik motor dinas Suzuki A100 keluaran tahun 79, di mana jalan dari rumah menuju ke jalan raya masih becek, berempat naik di motor yang di kendarai ayah, memang sudah bisa di tebak saat di jalan yang becek, licin dan berlumpur tersebut motorpun oleng dan kami semua jatuh di jalan yang penuh lumpur tersebut yang pastinya baju seragam sekolah menjadi kotor, begitu juga sepatu dan tas padahal jalan raya hanya beberapa meter lagi, tetapi yang kasihan dengan Ayah yang berbalut lumpur di samping menyelamatkan kami biar tidak terlalu kotor juga harus menyingkirkan motor biar tidak menghalangi jalan, walaupun ternyata tidak hanya kami yang terjatuh selang 10 menit kemudian ada juga pengendara motor yang jatuh, sehingga kami pulang kembali ke rumah dengan berkotor-kotor ria.

Atau saat menunggu ayah pulang lembur dari kantor yang sudah malam dimana bisanya membelikan sebungkus sate dari tempat ia bekerja, walaupun walam biasanya kami akan bangun dan menyantap sebungkus sate tersebut walaupun saat makan ibu harus membagi rata beberapa tusuk sate tersebut, tetapi justru itu yang membuat ayah tersenyum.

Sekarang di antara kerutan di wajah dan di kulitnya ia mungkin hanya bisa mengenang saat kami kecil dan beranjak mandiri di mana rumah yang dulu ramai dengan suara-suara kami yang sering bercanda, ataupun ribut dengan adik dan ayuk, sekarang rumah ini menjadi sepi hanya Ayah, ibu dan adik kami yang terkecil, itu yang sering ayah katakan pada saat kami sekeluarga berkunjung ke rumah tempat saya di bersarkan dulu.

Memang sekarang ayah tidak muda seperti dahulu lagi, tepat berumur 60 tahun pada tanggal 7 April 2009 kemarin tetapi banyak hal yang saya pelajari dari beliau baik untuk kehidupan maupun pergaulan, seperti yang pernah ia katakan "Kalau kerja jangan menghitung-hitung tulang, keringat dan uang", sampai sekarang prinsip itu yang saya ingat terus menerus di dalam kehidupan saya, atau ia pernah berkata saat saya ragu akan menikah atau tidak "Allah akan memperlihatkan rizki yang sesungguhnya saat kita menikah" , memang banyak petuah yang ayah tinggalkan untuk kehidupan ini.

Begitu juga bermasyarakat sepertinya ayah selalu sibuk membantu kegiatan tetangga dan warga yang meminta bantuannya, terkadang ia sedikit marah saat di nasehati jangan terlalu capek karena nanti darah tingginya kumat, tetapi justru kalau tidak membantu menambah jadi pikirannya, kalau ada yang hajatan pasti ayah yang di percaya untuk menjadi koordinator di hajatan tersebut.

Memang ayah tidak memberi harta ke kami, tetapi beliau memberikan pendidikan yang baik bagi kami, sekarang di hari tuanya ia aktif menjadi pengurus masjid di rumah tempat ia tinggal, kalau melihat gayanya saat ke masjid seperti "Bang Jack" di sinetron "Para pencari tuhan".

Dodi NP - "Selamat Ulang Tahun Ayah"

Saturday, March 21, 2009

Saya Caleg Sesungguhnya di Tahun 2014

"Saya Caleg Tahun 2014, tahun ini baru sebatas uji coba" ujar temanku itu serius ...., hal ini yang membuat saya heran pada nya, di mana dulu anak yang pendiam dan tidak tertarik sama politik ini sekarang sangat berminat dengan yang namanya "Caleg", hal ini bukan hanya bualan saja seperti di tahun ini ia ikut sebagai Caleg dari salah satu parpol baru dengan nomor urut 20. yang ia bilang lumayan sebagai pemula.

Walau dengan teori dan strategi yang cukup meyakinkan kendala yang di hadapi ia adalah masalah dana, dimana sebagai pemilik toko obat-obatan dan jamu serta beberapa barang lainnya belum banyak menunjang untuk kegiatan ini, karena kalau di paksa saya yakin kalau akan kolaps, karena walau sekarang No urut 20 ia juga ikut memajang poster, baliho, kartu dan beberapa alat praga caleg lainnya yang di buat bukan dengan modal yang sedikit.

Memang saat ini baru uji coba, tetapi kalau uji coba saja sudah begini banyak memakan dana, bagai mana kalau sudah benar-benar fokus ke kegiatan ini, wajar kalau setelah Pemilu banyak caleg yang harus istirahat di Rumah Sakit jiwa, karena sudah terlalu capek berpikir dan juga terlalu banyak mengeluarkan dana.

"Tidak Terpilih" itulah resiko yang akan di hadapi oleh Caleg di mana resiko ini pasti akan terjadi pada caleg yang kalah, apakah mereka sanggup menghadapi ini semua termasuk teman saya ?,
kita tunggu saja di 9 April nant.

Dodi NP - " Caleg no urut sepatu"

Friday, March 20, 2009

Yai Nain Penjual Sarung Bantal Keliling

Sarung..sarung..sarung...sarung bantal, sarung kasur.....sarung..sarung, teriakan seperti inilah yang sering di dengar di kawasan Rumah Susun di mana sesosok lelaki renta bersama cucunya berkeliling mengelilingi komplek perumahaan susun 26 ilir di kota ini.

Dengan langkah yang masih tegar di usia yang sudah merenta si kakek yang akrab di sapa Yai Na'in ini terus menawarkan dagangannya, bukan pemandangan asing bagi penduduk yang tinggal di rumah susun tersebut melihat kakek renta yang memanggul dagangannya.

Dari sarung bantal tidur, bantal guling dan sarung kasur di bawa oleh si kakek yang sekarang sudah hampir menginjak usia 80 tahun ini, tetapi semangat untuk mencari tanpa mengharap belas kasih orang lain yang patut di tiru, setiap hari kakek yang di temani si cucu keliling kawasan 26 ilir setelah tengah hari saat si cucu pulang sekolah, dengan langkah pasti di tengah matahari yang terik tidak membuat semangat si Kakek dan cucu meredup untuk mencari lembaran Rupiah, beruntung jika dalam hari itu sarung-sarung yang di bawa si kakek ada yang laku dengan membawa beberapa lembar uang ribuan untuk pulang kerumah, tetapi jika nasib lagi sial tidak satupun barang dagangannya yang laku.

Dulunya kakek ini berjualan di K5 di kawasan pasar 16 ilir tetapi karena sudah tidak kuat dengan seringnya pengusiran dan umur yang terus bertamabah membuat kakek ini beralih profesi menjadi penjual sarung bantal dan kasur ini.

Saat lelah menerpa tak jarang kakek dan cucu ini duduk di pinggiran jembatan ataupun di tempat umum untuk melepaskan lelah, satu hal yang menjadi prinsip kehidupannya "Tidak mau bergantung dengan orang lain selama nafas masih mengaliri tubuh ini".

Beginilah sedikit cerita tentang sosok penjual sarung bantal dan kasur yang berjuang di antara kerasnya hidup ini dan terus berjuang tanpa ada kata menyerah, apakah kita juga memiliki daya juang seperti Yai Na'in ini.
Dodi NP - "Terus Berjuang"